INFORMASI

BADAL HAJI

Solo, 6 Juli 2018

 

Badal haji artinya menghajikan orang lain, biasanya mereka berangkat ke tanah suci untuk berhaji sekaligus berniat menghajikan orang tua, kerabat, atau temannya yang sudah meninggal, sakit, dan alasan lain yang menyebabkannya tidak bisa menunaikan haji. Ibadah haji sendiri hukumnya fardhu dalam Islam. Untuk orang sudah meninggal dan belum berhaji memiliki dua kondisi:

 

1. Mampu secara ekonomi dan fisik

 

Apabila orang yang telah meninggal tersebut saat hidupnya mampu berhaji dengan badan dan hartanya, maka wajib bagi ahli warisnya untuk menghajikannya dengan harta orang yang telah meninggal tersebut. Kewajiban ini berlaku walaupun tidak ada wasiat dari orang yang meninggal tadi untuk menghajikannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Ali Imran ayat ke-97:
Fatwa Badal Haji
 
وَلِلّهِعَلَىالنَّاسِحِجُّالْبَيْتِ
Mengerjakan haji ke Baitullah adalah kewajiban manusia terhadap Allah, [yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah]
Hal ini diperkuat pula oleh hadits Nabi:  ada seorang laki-laki yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam, “Sungguh ada kewajiban yang seharusnya hamba tunaikan pada Allah. Aku mendapati ayahku sudah berada dalam usia senja, tidak dapat melakukan haji dan tidak dapat pula melakukan perjalanan. Apakah mesti aku menghajikannya?” “Hajikanlah dan umrohkanlah dia”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam.” (HR. Ahmad dan An-Nasai)
Dalam Hadits lain disebutkan:
Ada seorang wanita bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku bernadzar untuk berhaji. Namun beliau tidak berhaji sampai beliau meninggal dunia. Apakah aku harus menghajikannya?” “Berhajilah untuk ibumu”, jawab Rasul shallallahu ‘alaihiwasallam. (HR. Ahmad dan Muslim).
2. Tidak mampu secara ekonomi dan fisik
Apabila orang yang sudah meninggal ketika hidupnya miskin dan tidak mampu berhaji, atau dalam keadaan tua renta sehingga semasa hidup tidak sempat berhaji, maka keluarganya boleh menghajikan orang tuanya tersebut. Dalilnya selain dari yang telah disebutkan sebelumnya juga termaktub dalam hadits berikut:
Bila ketika hidupnya miskin dan tidak mampu berhaji, maka keluarganya boleh menghajikan orang tuanya tersebut
 
Inilah Prosedur dan Tata Cara Pembatalan Daftar Haji
 
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam mendengar seseorang berkata, “Labbaik ‘an Syubrumah (Aku memenuhi panggilanmu atas nama Syubrumah), maka beliau bersabda, “Siapa itu Syubrumah?” Lelaki itu menjawab, “Dia saudaraku -atau kerabatku-”. Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam lantas bertanya, “Apakah engkau sudah menunaikan haji untuk dirimu sendiri?” Ia menjawab, ”Belum.” Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam lalu mengatakan, “Berhajilah untuk dirimu sendiri, lalu hajikanlah untuk Syubrumah.” (HR. Abu Daud)
Sedangkan Tata cara badal haji yang diperkenankan oleh ijma’ para ulama adalah:
1. Para ulama menjelaskan, ada tiga syarat seseorang boleh membadalkan haji, yaitu:
  • Orang yang membadalkan adalah orang yang sudah berhaji sebelumnya.
  • Orang yang dibadalkan telah meninggal atau masih hidup namun tidak mampu berhaji karena sakit parah yang tidak ada harapan untuk sembuh atau lanjut usia dan lemah.
  • Orang yang dibadalkan hajinya adalah orang yang mati dalam keadaan Islam. Hal ini berarti bahwa selama hidupnya orang yang meninggal tersebut menunaikan salat.
2. Beberapa hal yang harus diperhatikan saat membadalkan haji orang lain berdasarkan fatwa ulama Al-Lajnah Ad-Daimah:
  • Tidak boleh banyak orang sekaligus yang dibadalkan hajinya. Yang boleh dilakukan adalah badal haji yang dilakukan setiap tahunnya hanya untuk satu orang yang dibadalkan.
  • Dilarang membadalkan haji orang lain dengan mengharap upah, kecuali jika yang menghajikan tidak memiliki harta sendiri sehingga butuh biaya untuk membadalkan haji.
  • Badal haji bukan untuk orang yang lemah dari sisi finansial sementara dari segi fisik dia mampu. Kewajiban haji gugur bagi orang yang fakir.
  • Seorang wanita boleh membadalkan laki-laki, begitu pula sebaliknya.
  • Badal haji lebih utama dilakukan oleh ahli waris orang yang dibadalkan, jika tidak ada, menyewa orang untuk melakukannya juga diperbolehkan.
Demikian penjelasan mengenai hukum badal haji. Semoga bermanfaat.
 
 

MAQAM IBRAHIM

 

Solo, 7 Januari 2017

Maqam Ibrahim adalah sebuah prasasti yang berbentuk kotak dengan dua lubang di atasnya. Lubang itu berbentuk pahatan yang mengikuti jejak kaki Nabi Ibrahim saat membangun baitullah, Ka’bah, di Makkah Al-Mukarramah. Jadi, Maqam Ibrahim artinya tempat Nabi Ibrahim berdiri ketika membangun Ka’bah bersama anaknya, Nabi Ismail. Saat ini, Maqam Ibrahim diletak kan dalam rumah kaca di samping Mul tazam, Ka’bah. Siapa pun yang berthawaf (keliling mengitari Ka’ bah) di Masjdil Haram dan berada dekat bangunan rumah Allah tersebut, ia akan bisa melihat Maqam Ibrahim. Warna Maqam Ibrahim menyerupai warna perunggu, agak kehitam-hitaman. Cetakan kaki Nabi Ibrahim terbuat dari besi. Adapun rumah kaca sengaja dibuat untuk menghindari kerusakan prasasti jejak kaki Sang Pembangun Ka’bah, Nabi Ibrahim AS.

Sama halnya dengan Hajar Aswad, posisi Maqam Ibrahim yang menempel di Ka’bah memiliki keistimewaan. Jika Hajar Aswad mengandung sunah penghormatan dengan cara mencium atau mengusapnya, Maqam Ibrahim dihormati dengan melakukan shalat sunah di belakangnya setelah jamaah menunaikan thawaf tujuh putaran dan sebelum menuju bukit Safa-Marwah. Bahkan, ada doa khusus sebelum dan sesudah shalat sunah di belakang Maqam Ibrahim. Tentu saja, doa khusus itu berada di antara doa-doa pribadi jamaah kepada Allah SWT. Saat musim haji, tentu bukan perkara mudah untuk bisa shalat sunah tepat di belakang Maqam Ibrahim. Selain dijaga petugas, ada larangan terhadap jamaah agar tidak berdoa di depan Maqam Ibrahim. Alasannya, berdoa di depan Maqam Ibrahim dikhawatirkan mengandung penyembahan dan penghormatan yang berlebihan pada prasasti tersebut. Tidak heran kalau petugas di sana selalu menghalau jamaah yang terlihat berdoa di depan Maqam Ibrahim. Petugas biasanya memberi peringatan jika Maqam Ibrahim hanya sebatas untuk dilihat, bukan untuk disembah.

Terlepas dari itu semua, prasasti Maqam Ibrahim mengandung muatan sejarah yang tak ternilai. Prasasti jejak kaki Ibrahim itu menunjukkan betapa Nabi Ibrahim membangun Ka’ bah dengan tangannya sendiri. Batu-batu yang digunakan juga bebatuan yang dibawa sang putra, Nabi Ismail. Setiap kali bangunan Ka’bah bertambah tinggi, semakin tinggi pula tempat pijakan Nabi Ibrahim. Di atas maqam yang ditandai dengan sebuah batu dari surga ini pula Nabi Ibrahim menyerukan manusia supaya datang menunaikan ibadah haji. Maqam Ibrahim juga diyakini sebagai salah satu tempat mustajab untuk memanjatkan doa. Tentu, selain Multazam, Hijr Ismail, dan Jabal Rahmah (Padang Arafah). Menurut sejarah Islam, telapak kaki Nabi Ibrahim sangat mirip dengan telapak kaki Rasulullah SAW. Adapun bentuk jejak kaki di Maqam Ibrahim memiliki kedalaman yang berbeda. Satu bagian sedalam 10 sentimeter, sedangkan satu bagian lagi sedalam sembilan sentimeter. Panjang jejak adalah 22 sentimeter, sedangkan lebarnya 11 sentimeter. Berdasarkan ukuran tersebut, ahli sejarah Islam Sheikh Mohd Tahir Al Kurdi memperkirakan, Nabi Ibrahim memiliki ukuran tubuh yang lebih kurang sama dengan kebanyakan manusia saat ini. [Mai]

 

IG : arminarekaperdanasoloo
 

 
MASJID AR-RAHMAH
MASJID TERAPUNG DI LAUT MERAH-JEDDAH
29 Desember 2016
Masjid Ar-rahmah yang biasa dikenal dengan sebutan masjid terapung terletak di kawasan Kurnis di Jalan Corniche, kompleks Al Shati, Laut Merah, Kota Jeddah, Saudi Arabia.
 
 
Kompleks ini merupakan salah satu kawasan yang di tata begitu indah dan sangat menawan. Masjid Ar-Rahmah ini bukanlah satu satunya masjid yang ada di kawasan Kurnis kota Jeddah. Tapi ada beberapa masjid lainnya yang berukuran lebih kecil, dibangun di sepanjang pantai sebagai fasilitas keagamaan bagi Muslim yang sedang berada di kawasan tersebut. Pemerintah Arab Saudi telah menyulap kawasan pantai kota Jeddah yang menghadap Laut Merah, menjadi sebuah kawasan kota baru yang terkenal dengan sebutan Jeddah Cornice. Wajar bila kemudian Kota Jeddah pun mendapat julukan sebagai "pengantin perempuannya laut merah". Sejak masa ke khalifahan, Kota Jeddah pun sudah mendapat julukan sebagai "Kota di Tengah Pasar". Proyek pengembangan kawasan kurnis kota Jeddah ini berhasil menyabet penghargaan ‘Big Project Middle East Award” di bulan Desember 2012 yang diselenggarakan oleh Big Project Middle East Magazine, yang memberikan penghargaan bagi perusahaan ataupun individu yang telah berkontribusi bagi pembangunan dan industri yang berkelanjutan di negara negara teluk.
Masjid Terapung pada awalnya bernama Masjid Fatimah. Namun nama Fatimah disebutkan tidak ada kaitannya dengan putri Rasulullah SAW, Fatimah Az-Zahra, ataupun sejarah Islam. Nama Fatimah yang dimaksud adalah nama ibunda dari pembangun masjid ini. Belakangan, masyarakat luas mengaitkan nama masjid tersebut dengan Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah. Keberadaan masjid ini pun seolah ada kaitannya dengan putri nabi dan sejarah Islam. Untuk mencegah salah penafsiran, ditambah dengan kenyataan bahwa masjid ini telah menjadi salah satu tujuan favorit jemaah dari Asia, termasuk Indonesia dan terutama Iran, serta untuk meluruskan informasi, maka pada Desember 2010, Pemerintah Kota Jeddah mengubah nama masjid ini menjadi Masjid Ar-Rahmah.
Kata Kurnis atau Corniche berasal dari bahasa Prancis route à corniche. Artinya, ruas jalanan di tepian terjal. Namun, kata corniche itu kemudian bergeser makna menjadi sebuah kawasan terbuka yang luas di tepian badan air. Ada banyak tempat seperti ini yang terkenal di antaranya Corniche of Beirut di Lebanon, Corniche of Alexandria di Mesir, dan tentu saja Corniche of Jeddah ini. Kota Jeddah sendiri sudah berdiri sejak sebelum Islam, namun titik awal perkembangan pesat kota ini terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Usman Bin Affan, khalifah ketiga dari jajaran Khulafaur Rasyidin. Di tahun ke-26 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 647 Masehi, beliau yang pertama kali menjadikan kota Jeddah sebagai kota pelabuhan laut internasional bagi jemaah haji yang yang datang dari seluruh penjuru dunia. Khalifah Usman juga yang menjadikan Jeddah sebagai gerbang utama bagi para calon haji untuk menuju ke Mekah dan Madinah. Karena itu, Kota Jeddah juga mendapatkan julukan sebagai "Pintu Gerbang Dua Tanah Haram".
Kota Jeddah juga sangat terkenal sebagai tempat peristirahatan terakhir ibu semua manusia, Siti Hawa, istri Nabi Adam AS. Karenanya Jeddah seringkali diartikan sebagai 'nenek' dalam kaitannya dengan sejarah tersebut. Makam Siti Hawa berada di kawasan pemakaman kuno di pusat kota Jeddah. Makam ini dikenal sebagai Moqbara Umna Hawwa (makamnya bunda Hawa). Banyak aturan yang harus dipatuhi saat berziarah ke makam ini. Di antaranya dilarang membawa kamera, video, dan alat perekam lainnya. Dan wanita dilarang masuk ke areal pemakaman tersebut.
Bangunan Masjid Terapung yang berukuran sekitar 20 x 30 meter ini menggabungkan arsitektur modern dan seni bangunan Islam kuno. Masjid ini memiliki ruang salat yang luas dengan dekorasi sangat indah. Masjid ini dilengkapi peralatan berteknologi terbaru terutama dalam hal sound system, disediakan keran-keran air hangat selama musim dingin dan bagian dalamnya dihias dengan banyak tulisan kaligrafi. Dekorasi interior yang fantastik, gaya arsitektur dan pencahayaan atap yang sempurna, memberikan kenyamanan tersendiri bagi pengunjung masjid ini. Saat subuh, masjid terlihat mengagumkan, sinar matahari yang masih sangat redup menjadi latar bagi masjid dengan lampu-lampu yang terlihat berkilauan. Sementara, posisinya yang tepat di pantai Laut Merah membuat atmosfir Masjid Terapung terasa menyenangkan di malam hari.

Boleh jadi masjid ini satu-satunya masjid di dunia yang pengurusnya harus memasang larangan salat berjamaah lebih dari satu kelompok, menggunakan pengumuman permanen yang dipasang di dalam masjid. Mungkin karena jemaah haji dan umroh yang datang ke Arab Saudi datang berkelompok-kelompok sesuai agen perjalanannya, sehingga masing-masing mereka melaksanakan salat berjamaah di dalam masjid dengan kelompoknya masing-masing.

Berbagai sumber tulisan menyebutkan, masjid ini dibangun oleh seorang janda kaya Kota Jeddah. Namun sama sekali tak menyebut siapa namanya, kapan dibangunnya dan berapa biaya yang dihabiskan untuk proyek pembangunannya. Satu hal yang pasti, pembangunan masjid ini telah menjadi inspirasi banyak negara untuk membangun masjid serupa. Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa masjid terapung yang dibangun. Di antaranya Masjid Munawaroh di Ternate, Masjid Terapung Kota Palu, dan Masjid Terapung Kota Makasar. Belum lagi yang masih dalam tahap pembangunan seperti Masjid terapung Al-Alam di Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara dan Masjid Terapung Banten (MTB) yang baru saja dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Banten. Masjid terapung tetaplah rumah Allah yang memiliki keindahan tersendiri. Salah satu cara mensyukurinya adalah dengan beribadah disana saat berkunjung. Minimal dengan shalat tahiyatul masjid. ^_^ [Mai]
Sumber :
Disunting dari
Masjid Ar Rahmah, Masjid Terapung Kota Jeddah 
 

 

 

RAUDHAH

 7 Desember 2016

 

Dibalik Megahnya Masjid Nabawi-Madinah, ada sebuah tempat yang memiliki keutamaan lebih. Tempat yang sangat mulia itu merupakan tempat Rasulullah SAW beribadah, memimpin sholat, menerima wahyu, teriring pula tentunya ibadah para sahabat nan sholeh. Jamaah haji atau umroh yang berada di Madinah, biasanya akan menyempatkan berdoa di tempat ini. Tempat ini tak pernah sepi, menjadi tempat yang paling afdhal untuk memanjatkan doa. Nama lokasi itu adalah Raudhah. 

 

 

Secara bahasa, “Raudhah” berarti taman. Raudhah merupakan salah satu ruangan di Masjid Nabawi yang banyak dimasuki jamaah untuk memanjatkan doa. Ia terletak di antara kamar Nabi dan mimbar untuk berdakwah. Luas Raudhah dari arah Timur ke Barat sepanjang 22 m dan dari Utara ke Selatan sepanjang 15 m. Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah mengatakan: “raudhah adalah area di sekitar mimbar yang biasa digunakan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam untuk berkhutbah. Beliau ketika ditanya mengenai hadits:

 

 


ما بين بيتي ومنبري روضة من رياض الجنة


“antara rumahku dan mimbarku adalah taman (raudhah) dari taman-taman surga”


Beliau menjelaskan: “hadits ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib dan Abu Hurairah dan beliau menilai hadits ini hasan gharib dari Ali. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim dan selainnya dari jalan lain yang di dalamnya terdapat tambahan:


ومنبري على حوضي


‘dan mimbarku (kelak) akan berada di atas telagaku'


Makna hadits ini menyatakan bahwa area tersebut (raudhah) memiliki kemuliaan dan keutamaan. Barangsiapa yang shalat, i’tikaf atau duduk berdzikir dan membaca Al Qur’an di sana seakan-akan ia telah duduk di taman dari taman-taman surga. Sehingga menjadikan shalat yang dilakukan di sana berpahala banyak. Sebagaimana juga shalat di bagian masjid Nabawi yang lain dilipat-gandakan pahalanya 1000 kali dari shalat di masjid lain kecuali masjidil haram”.


Taman surga di sini bukan berarti sesuai deskripsi surga dalam Al Quran yang dijanjikan Allah sebagai balasan kebaikan di akhirat nanti. Tapi merupakan taman yang mulia, di mana beribadah di dalamnya menghadirkan rasa khusyu’ mendalam, tiap doa yang dipanjatkan di dalamnya sangat mudah diijabahi. Sebagaimana taman yang selalu memberi rasa tenang dan rasa segar, ketenangan dan kesegaran yang didapat di Raudhah ini pada level yang membuat kita tak banyak menunda untuk berkata, “ya, ini taman surga"

 
Walaupun dianjurkan beribadah di raudhah, para ulama juga memperingatkan beberapa kesalahan yang wajib dijauhi ketika berada di-raudhah. Diantaranya adalah:


• Ikhtilath (campur-baur) antara lelaki dan wanita di-raudhah
• Ngalap berkah kepada kuburan atau mimbar Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan cara mengusap-usap dindingnya atau dengan cara lainnya
• Masuk ke raudhah bermaksud untuk mendekat kepada kuburan Nabi dan beribadah kepada kuburan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

 

 


Penampakan kalau dari luar, area Raudhah ditandai dengan kubah hijau. kubah perak sendiri merupakan penanda mihrab tempat imam. Untuk masuk Raudhah, pintu terdekat adalah dari gate Babus Salam atau gate Jibril. Satu area di dalam masjid yang dinamakan Raudhah ditandai oleh tiang-tiang putih dengan ornamen kaligrafi yang khas dan juga karpet warna hijau yang menutup lantainya. Ukuran Raudhah sekitar 26 x 15 meter. Warna karpet ini berbeda dengan warna karpet Masjid Nabawi yang semuanya berwarna merah. 

 

 

 

 

 

 

 

Lokasi ‘taman surga’ ini merupakan bagian dari shaf laki-laki, hanya terbuka untuk perempuan di jam tertentu seperti pada waktu Dhuha (± 2 jam), antara Dhuhur dan Ashar, serta di malam hari. Jamaah yang ingin memasuki Raudhah sangat padat selama 24 jam. Karena padatnya jamaah, petugas membatasi kuota dengan kain putih tebal. Ada tulisan warning berbahasa Arab, Inggris, Turki, dan Indonesia. “Jangan memaksakan diri dan menyakiti sesama pada saat memasuki Raudhah dengan saling mendorong dan berdesak-desakan. Tunggulah giliran dengan izin Allah, masih banyak waktu untuk Anda untuk memasuki Raudhah dan sholat di dalamnya”. Beribadah di Raudhah itu sunnah dengan keutamaan besar, tapi mengejar hal yang sunnah jangan membuat kita mengerjakan hal yang haram. Menganiaya atau menyakiti sesama itu haram. Memaksakan diri di jam menjelang sholat juga bisa membuat anda terjebak dalam shof pertengahan (antara 2 lantai) yang jelas sangat menganggu posisi sujud saudara kita yang berada pada shof yang benar. Salah satu upaya memasuki Raudhah adalah dengan datang ke mesjid pada awal pintu masjid dibuka. Sehingga kita memiliki cukup waktu untuk melaksanakan salat Tahajud, salat Tasbih, dan salat Fajar serta melakukan zikir atau membaca Alquran.

 [Mai]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masjid Quba, "Masjid Pertama yang dibangun Rasulullah saat hijrah ke Madinah"

30 November 2016

 

Ketika Rasulullah Shaliallahu wasallam dalam perjalanan hijrah ke Madinah, di kampung Quba, Sayyidina 'Ammar Bin Yasir Radhiyallahu 'anhu mengusulkan, untuk membangun tempat berteduh bagi Rasulullah Shallailahu alaihi wasallam agar dapat beristirahat siang dan mendirikan shalat dengan tenang. Lalu, Sayyidina 'Ammar Radhiyallahu 'anhu mulai mengumpulkan batu-batu dan mendirikan masjid.

Rasulullah saw adalah yang pertama kali meletakkan batu tepat di kiblatnya, Abu bakar kemudian datang membawa batu dan meletakkannya. Dilanjutkan Umar yang meletakkan batu disamping batu abu bakar. Setelah itu barulah kaum muslimin beramai ramai membangunnya.

Keutamaan Masjid Quba dalam Quran dan Hadist

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

"....Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (Mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih" (QS At Taubah: 108)

"Ketika pembangunan Masjid ini selesai, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam mengimami shalat selama 20 hari. Semasa hidupnya, lelaki yang dijuluki Al-Amin ini selalu pergi ke Masjid Quba setiap hari Sabtu, Senin dan Kamis. Setelah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam wafat, para sahabat menziarahi masjid ini dan melakukan salat di sana."( HR. Bukhari no. 1117 , HR. Muslim no. 2478)

Shalat di masjid Quba memiliki keutamaan. Menurut Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abu bin Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhum, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda: “Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba, lalu ia shalat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala umrah”.( HR. Tirmizi no. 298. Ibnu Majah no. 1412) [Mai]

 

 

Masjid Nabawi

28 November 2016 

Merupakan salah satu masjid termegah didunia yang terletak di Madinah. Dulunya masjid ini merupakan masjid kedua yang dibangun Rasulullah SAW setelah hijrah ke Madinah. Telah dikisahkan pada edisi terdahulu, setelah unta tunggangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti di suatu tempat di Madinah, maka kaum muslimin menjadikannya sebagai tempat untuk menunaikan shalat. Tempat itu merupakan tempat penjemuran kurma milik Suhail dan Sahl, dua anak yatim dari Bani Najjâr yang berada dalam pemeliharaan As’ad bin Zurârah.

Ketika tunggangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti di tempat itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

هَذَا إِنْ شَاءَ اللهُ الْمَنْزِلُ

“Insya Allah, tempat ini (untuk) rumah” [HR Bukhâri]

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil kedua anak yatim itu dan menawar tanah itu untuk dijadikan masjid. Tetapi kedua anak itu berkata: “Justru kami ingin memberikannya kepada anda, wahai Rasulullah”. Meski demikian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa enggan menerima pemberian dua anak kecil ini, sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap membelinya. Dan di atas tanah ini, Masjid Nabawi dibangun.

Dalam riwayat ini dijelaskan juga, bahwa di tempat ini terdapat kuburan orang-orang musyrik, dataran yang agak tinggi, dan ada juga pohon kurma. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kuburan orang-orang musyrik ini digali dan tulang-belulangnya dikeluarkan, dataran yang agak tinggi diratakan, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar memotongi pohon-pohon kurma tersebut. Setelah itu, pembangunan masjid pun dimulai. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri berbaur bersama para sahabat membawa batu bata yang masih mentah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan syair:

هَذَا الْحِمَـالُ لَا حِمَـالَ خَيْبَرْ هَذَا أَبَرُّ رَبَّنَا وَأَطْهَرْ

“Yang dibawa ini bukanlah beban dari Khaibar. Ini lebih kekal, lebih bermanfaat dan lebih suci di sisi Rabb kami”.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berseru:

اللَّهُمَّ إِنَّ الْأَجْرَ أَجْرُ الْآخِرَهْ فَارْحَمْ الْأَنْصَارَ وَالْمُهَاجِرَهْ

“Ya Allah, sesungguhnya ganjaran itu adalah ganjaran akhirat. Berilah rahmat kepada kaum Anshâr dan kaum Muhajirin”.

Dalam pembangunan masjid ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutamakan orang-orang yang ahli. Dalam sebuah riwayat, al-Yamâmi berkata: “Aku mencampurkan tanah, lalu seakan campuranku ini menakjubkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bersabda: ‘Biarkanlah al-Yamaami al-Hanafi dengan tanah, karena dia paling ahli di antara kalian dalam urusan tanah’.”

‘Ammar bin Yâsir Radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang sangat bersemangat dalam pembangunan ini. Saat yang lain membawa satu batu bata, dia membawa dua. Satu untuk dirinya, sedangkan yang satu lagi untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Melihat perbuatan ‘Ammar ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap punggung ‘Ammâr seraya bersabda: “Wahai Ibnu Sumayyah, orang-orang ini mendapatkan pahala satu, tetapi engkau mendapatkan pahala dua, bekal terakhirmu adalah satu hirupan susu, dan engkau akan dibunuh oleh kelompok pembangkang”.

Hadits ini termasuk di antara bukti kenabian Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena di kemudian hari ‘Ammâr Radhiyallahu ‘anhu meninggal dengan cara yang telah dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas.

Pembangunan masjid Nabawi membutuhkan waktu dua belas hari. Setelah itu, dilanjutkan dengan membangun kamar-kamar untuk istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara yang sama sebagaimana membangun masjid. Saudah bin Zum’ah Radhiyallahu ‘anha, salah seorang istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki tempat tersendiri, dan begitu pula dengan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Dua rumah inilah yang pertama kali dibangun untuk istri-istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keduanya berdampingan dengan masjid dan sangat sederhana, terbuat dari tanah dan pelepah kurma, atau batu yang disusun dan atapnya pelepah kurma. Kemudian dilanjutkan dengan rumah-rumah berikutnya jika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menikah lagi.

Pada tahun pertama hijrah ini pula disyariatkan adzan dengan lafazh yang kita dengar sekarang. Demikian, menurut pendapat yang râjih. Driwayatkan, saat ‘Abdullah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu bermimpi tentang lafazh-lafazh adzan lalu diceritakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada Bilal bin Rabbah Radhiyallahu ‘anhhu untuk mengumandangkan adzan dengan lafazh-lafazh tersebut. Ketika adzan ini terdengar oleh ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, ia pun bergegas menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan mimpinya yang sama dengan mimpi ‘Abdullah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu.

Awal mulanya, di masjid Nabi ini belum ada mimbar sebagai tempat berkhutbah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah sambil bersandar pada sebuah batang kurma. Tentang batang kurma ini, terdapat peristiwa yang menjadi bukti kebenaran kenabian Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibuatkan mimbar dan kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pindah tempatnya dalam menyampaikan khutbah, batang kurma yang biasa dijadikan sandaran beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu menangis layaknya anak kecil. Mendengar tangisan pohon ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kembali kepadanya dan memeluknya sehingga diam.

Alangkah indahnya keterangan yang disampaikan oleh Hasan al-Bashri setelah membawakan riwayat ini. Beliau rahimahullah berkata: “Wahai kaum muslimin, kayu bisa merintih karena merindukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bukankah orang-orang yang berharap bisa berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih pantas untuk merindukannya?”

Sumber: https://almanhaj.or.id/3745-pembangunan-masjid-nabawi-ponda disuntung oleh tim penulis Arminarekasolo [Mai]

 

 

 

 

FIQH THAHARAH

Surakarta, 12 Oktober 2016

 

·           NAJIS
Hadats : keadaan tidak suci dimana kita harus bersuci darinya ketika hendak beribadah.
Hadast dibagi menjadi 2 jenis yaitu:
  1. Hadast Besar, seperti junub, haid, nifas, kafir, mani
  2. Hadast Kecil. seperti keluar angin, madzi, wadi (cairan yang keluar setelah kencing), hadi (ketuban), keputihan
Sedangkan najis adalah bendanya yang ketika mengenai harus dibersihkan ketika hendak beribadah. Jika sulit dibersihkan maka ada keringanan. Kaidah :
اَلْمَشِّقَةُ تَجْلِبُ التَّيْسِرُ
"Kesulitan memperbolehkan kita mengambil kemudahan (rukhsoh)."
 Benda-benda najis antara lain :
Najis
 Najis dan Juga Haram :
Bangkai binatang yang tidak mempunyai darah mengalir seperti semut, lebah dll adalah suci. Binatang mati yang tidak dikategorikan bangkai:
1. Ikan dan belalang dan darah hati dan limpa (HR. Ahmad, Fiqh Sunnah hal. 20)
2. Bangkai binatang yang tidak mempunyai darah mengalir seperti semut, lebah dan belalang.
“Rasulullah bersabda : binatang ternak yang dipatahkan lehernya atau dipotong dalam keadaan masih hidup maka ia termasuk bangkai.” [HR. Abu Dawud/Fiqh Sunnah jilid ]
Ketentuan :
·           Kencing bayi laki-laki yang masih minum asi cukup dengan dipercikan air (Fiqh Sunnah hal 23 jilid 1)
·           Madzi : cairan putih bergetah karena terangsang.baik laki-laki maupun wanita bisa mengeluarkan madzi. Kalau mengenai pakaian cukup dipercikan air sedangkan kalau mengenai badan dicuci (HR. Bukhari)
·           Mani : Sebagian ulama berpendapat suci. Disunahkan mencuci ketika masih basah.kalau sudah kering di lap pakai kain atau daun.
·           Berhala dan orang kafir termasuk najis ma’nawi : kalau disentuh tidak menyebabkan kita bernajis.
·           Anjing : dicuci 7 x salah satunya (yang pertama) dengan tanah (HR. Muslim, Ahmad, Abu dawud, Bukhari FS Hal. 28 Jilid 1)
Darah wanita dibagi menjadi :
1.    Haid
2.    Nifas
3.    Istihadhah
 
·           HAID
Adalah darah yang mengalir dari rahim seorang wanita melalui vagina sedang dia dalam keadaan / kondisi sehat/tidak ada sebab melahirkan kecuali pecahnya selaput dara.
Masa : dari 9 tahun sampai menopause.
Sebelum 9 tahun bukan termasuk haid.
Menopause terjadi pada usia :
Ø Menurut imam Hambali dan Imam Maliki Menopause terjadi saat usia 58 tahun.
Ø Menurut imam Hanafi 55 tahun
Ø menurut imam syafii 62 tahun
Faktor haid : pengaruh TV, Makanan (gizi), bacaan
Waktunya minimal 1 x 24 jam maksimal 15hari
Kasus I Fatimah binti Haji (sahabat) yang di panjang harinya mengeluarkan darah
Standarnya sudah tahu :
ü Baligh
ü Mumayiz
ü Mukalaf
Ketentuan:
§   Dilarang berjimak
§   Dilarang sholat dan tidak wajib mengganti
§   Dilarang puasa dan wajib mengganti puasa untuk puasa ramadhan
§   Dilarang menyentuh mushaf Kecuali Kecuali darurat
Q. S. Al Waqi’ah   Kalau malaikat semua suci
§   Dilarang i’tikaf : berdiam diri di masjid dengan maksud ibadah
§   Dilarang thawaf di ka’bah (thawaf kedudukannya sama dengan shalat)
§   Suami tidak boleh menjatuhkan talak / cerai
Contoh : Ibnu Umar menceraikan istrinya saat haid / haram
Ditunggu suci nya 3 x kalau sudah terlanjur
§   Sesudah selesai wajib mandi besar
 
·         NIFAS
Adalah darah yang keluar dari rahimwanita melalui vagina baik sebelum / saat / sesudah melahirkan
Umumnya ulama : maks 40hari
Ada juga yang berpendapat sampai 60 hari
Ketentuan sama seperti haid
Darah yang keluar saat wanita hamil :
1.      Hanafi : Istihadhah/pendapat yang lebih kuat. “Tanda kehamilan berhentinya darah haid
2.      Maliki dan syafii : Jika setiap bulannya tidak lebih dari 15 hari berarti darah haid / keluar putih
BAYI KEMBAR
Nifas dimulai setelah bayi ke 2
Darah yang keluar sebelum bayi ke 2 adalah darah haid
Setelah 40 hari harus bersuci
Malik: jika jarak kelahiran antara bayi ke 1 dn ke 2 lebih dari 60 hari maka nifasnya sendiri sendiri
Jika kurang dari 60 hari maka nifasnya dimulai dari kelahiran bayi ke 1
 
·           ISTIHADHOH
Adalah Darah yang keluar dari bawah rahim melalui vagina tapi bukan karena haid /melahirkan
Warna : merah cerah dan tidak berbau
Kasus II Ada seorang wanita 1 bulan haid 2 x
Minggu I
Minggu II
Minggu III
Minggu IV
Haid
Suci
Haid
Suci
 
a.    5 Hari : tidak boleh lebih dari 10 hari / belum selesai harus sholat
b.    7 Hari : tidak boleh lebih dari 8 hari  / meskipun belum selesai harus sholat
Sifat : Beda dengan darah yang lainnya
§   Panas
§   Merah kehitam hitaman
§   Berbau tidak sedap
Warna
§   Kuning
§   keruh/Abu-abu
§   Coklat
§   Hitam
§   Merah
§   Hijau
(Hasil survey ulama)
Contoh :
ü Darah yang keluar sebelum 9 tahun
ü Darah yang keluar ketika kelelahan
ü Haid yang lebih dari 15 hari
ü Nifas yang lebih dari 40 hari atau 60 hari (jamhur)
ü Lebih dari haid yang biasanya
ü Darah wanita yang hamil
ü Darah yang keluar saat sobeknya selaput dara/ keperawanan
Ketentuan :

 

 

Ditulis oleh : Penulis Arminareka Solo dengan referensi acuan Fiqh Thaharah.

 

 

 Aturan Biaya Visa Baru Arab Saudi Berlaku Mulai Ahad Kemarin 

 

Dirjen Paspor Arab Saudi akan mulai memberlakukan biaya visa baru mulai Ahad (2/10). Aturan ini merupakan perubahan amandemen terkait inisiatif pendapatan nonminyak oleh Departemen Perencanaan Keuangan dan Ekonomi.  Rancangan ini telah masuk dalam dekrit kerajaan. Amandemen juga telah disetujui oleh Dewan Menteri. Peraturan yang berlaku sejak hari pertama tahun baru Hijriah ini, mengatur pembuatan visa atau perubahan visa dilakukan melalui sistem online dengan pembayaran dilakukan lewat ke bank lokal yang sudah ditunjuk. “Struktur biaya revisi visa yang ditanggung ekspatriat lebih mahal,” kata pihak Direktorat General Paspor Arab Saudi seperti dikutip Saudigazete, Senin (3/10).


Berdasarkan rapat kabinet memutuskan, pihak kerjaan akan memungut biaya secara berkala kepada pemegang visa yang menetap di Arab Saudi sebesar 200 Riyal atau (setara Rp 693 ribu). Sementara biaya untuk perjalanan tunggal untuk jangka waktu dua bulan sebesar 100 Riyal atau setara Rp 346 ribu.

“Ada biaya tambahan untuk beberapa perjalanan sebesar 500 Riya (setara Rp 1,7 juta) selama tiga bulan. Dan 200 Riyal  (setara Rp 693 ribu) akan diminta biaya tambahan setiap bulannya sampai masa berlaku habis,” katanya.

Peraturan baru itu juga memberlakukan bagi jamaah haji dan umrah pertama tidak dikenakan biaya. Akan tetapi, jamah haji dan umrah kedua akan dikenakan biaya sebesar 2.000 Riyal (setara Rp 6 juta). Sementara pihak asing yang mengunjungi tempat-tempat liburan di Arab Saudi selama enam bulan akan dikenakan sebesar 3,000 Riyal (setara Rp 10 juta), 5.000 Riyal atau (setara Rp 17 juta) untuk jangka waktu satu tahun, 8.000 Riyal atau setara Rp 20 juta untuk jangka waktu dua tahun.

“Biaya visa transit telah diperbaiki sebesar 300 Riyal (setara Rp 993 ribu) dan biaya visa keluar bagi siapa saja meninggalkan Kerajaan melalui pelabuhan laut akan dikenakan 50 riyal atau setara  Rp 173.300.

 

Sumber : Republika ditulis ulang dan